Lower Your Wing | Turunkan Sayapmu

#Pengingat diri agar berbakti pada orang tua kita, yang telah berjasa melahirkan & membesarkan kita

KINE.tic

Lower Your wing

LOWER YOUR WING | TURUNKAN SAYAPMU

وَقَضٰى رَبُّكَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا ۗ اِمَّا يَـبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَاۤ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًا
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 23-24)

Ini adalah pengingat, terutama untuk saya pribadi.

Surat Al-Isra’ ayat 23-24 ini merupakan bagian dari perintah Allah kepada Bani Israil. Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhum mengatakan bahwa ayat 23-40 Surat Al-Isra’ merupakan versi Al-Qur’an dari Ten Commandments atau 10 Perintah Tuhan yang mungkin orang Yahudi sudah familiar. Sepuluh perintah ini merupakan “golden rules of syariah” yang diberikan kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam, untuk Bani Israil.

Tulisan ini tidak akan membahas semuanya. Fokus tulisan ini adalah ayat 23-24, dan bagaimana Al-Qur’an menggunakan bahasa yang luar biasa indah untuk mengekspresikan sesuatu.

وَقَضٰى رَبُّكَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ

Waqodhoo robbuka allaa…

View original post 891 more words

Demi Waktu

KINE.tic

DEMI WAKTU

وَالْعَصْرِ
اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
(QS. Al-‘Asr 103: Ayat 1-3)

Ini adalah pengingat untuk saya sendiri, dan kita semua, tentang waktu.

Demi waktu…
Allah bersumpah menggunakan waktu, bahwa manusia berada dalam kerugian, gagal…
Karena memang waktulah yang menjadi saksi atas berbagai macam kegagalan yang terjadi berulangkali di dalam sejarah kehidupan manusia. Dalam kehidupan pribadi kita, waktu menjadi saksi atas semua yang kita lakukan, dan apa kita berharap tidak melakukannya. Di penghujung hidup kita, kita selalu berharap bisa melakukan lebih, bisa memanfaatkan waktu lebih baik, menyesal karena kita berada dalam kerugian.

Bukti nyata bahwa saya, kita semua, dan setiap manusia di seluruh dunia, sedang berada dalam kerugian, adalah waktu. Waktu kita di dunia ini selalu berkurang, tidak pernah bertambah, tidak bisa kembali.

Jika kita kehilangan pekerjaan, dengan ikhtiar maksimal dan doa kepada Allah, insyaAllah kita akan mendapatkan pekerjaan…

View original post 562 more words

“Pagi yang penuh berkah” by Mario Teguh

Wahai pagi yang penuh berkah,

dalam keindahanmu
kami dibuat mengerti,
bahwa cara terbaik untuk
memperpanjang waktu,
bukanlah mengulur batas waktu,
tetapi menyegerakan waktu mulai.

Semakin segera kami memulai,
akan semakin panjang waktu kami,
dan dengannya akan semakin banyak
yang dapat kami selesaikan.

Kami menjadi
bukan karena yang kami rencanakan,
tetapi karena yang kami selesaikan.

Tuhan, tenangkanlah hidup kami
dengan pekerjaan yang baik,
yang rezekinya melebihkan kami
sebagai penderma,

jadikanlah keluarga kami penguat
dan bukan yang menghambat,

dan jadikanlah diri kami keuntungan
bagi sesama, dan bukan beban
yang menyulitkan mereka.

Jadikanlah kami hadiah
bagi kebaikan hidup sesama dan alam.

Amiin

“Lonely Table Just for One” by Engelbert Humperdinck

Lonely table just for one
In a bright and crowded room
While the music has begun
I drink to memories in the gloom
Though the music’s still the same
It has a bittersweet refrain

So play the song the way it used to be
Before she left and changed it all to sadness
And maybe if she’s passing by the window
She will hear a love song
And a melody
And even if the words are not so tender
She will always remember
The way it used to be

Friends stop by and say hello
And I laugh and hide the pain
It’s quite easy ’til they go
Then the song begins again

So play the song the way it used to be
Before she left and changed it all to sadness
And maybe if she’s passing by the window
She will hear a love song
And a melody
And even if the words are not so tender
She will always remember
The way it used to be

bright sun shine day-light

Morning breaking, a motorcycle rider taking-off from the BSD residential area, crossing sub-urban road (Jombang-Lengkong), and end up in a train station, named Sudimara.. After 30 min travel on the rail-way, I took-off at The Palmerah station, and continue my ride on “ojek” motorcycle.. Two types of transportation mode that usually bring me from my home to the office vise-versa.. What made the different was that on that day, the sun was shining so brightly, the light hurt my eyes and disturb my vision, My God.. It was a safety issue, It was, when you ride on motorcycle with the speed of 40-60 km/hr on the small two-way sub urban road at the condition of you can’t see anything in front of you (due to bright sun light). A rayban sun-glasses on helmet might help, but I’m not the one who use that kind of helmet.. Not since I also a ‘night’ rider, I barely see anything with a black glasses helmet.. On the night.. I love sun-light, I’m not a vampire though, more over my name, Adhitia, was came from Hindistan-Sanskerta language which means “Son of The Sun” I like it when her warm radiation touch my skin.. I just need to adapt.. And deal with it’s bright.. Even the sun can turns the black crow into white (Legends of The Spirit Raven).. I hope it also symbolize God forgiveness to my Black Sins.. And turns me into a pure white soul (just like The White Crow).. Oh, my train is approaching Rawa Buntu station now, the nearest station to my home.. I’ll continue with riding my motorcycle to my home.. Let’s Ride, dude!!! Alright..

Welcoming Jakarta – Monday Morning

For them who wondering, what’s my car (back-seat) look a like when I go directly from My Home Town in Bandung City to my office in Jakarta Megacity (@ Wisma GKBI – Jl. Jend. Sudirman 28) on Monday Morning

A bike, office out-fit (a shirt and long trousers), sport-shoes, office-formal shoes, paddy from rice fields, large luggage and bag… everything inside…

Still, on my way to The Office on Monday Morning, I never took a bath from Bandung, I used to get shower at XX Plaza (bathroom is my favorite spot on this mall)

Passing the Senayan Street

It’s between The Sleepless – model – and (Alm.) Mbah Maridjan


Welcome to Jakarta traffic

You better wake up early and go to the office before the traffic jam caught you

“Experience is The Best Teacher”

It’s a very looong queue…

I had to spent more time on Jakarta inner city high-way (about 14 Km traffic jam) rather than on the interstate  high-way from Bandung to Cikampek (about 60 km)